sekolahku yang seperti rumah

 Sekolahku yang Seperti Rumah


Di desa kecil dengan rumah tropis hijau cerah seperti foto itu, sekolahku berdiri di pinggir sawah. Bangunannya mirip rumahku—dinding cat hijau segar, atap seng merah yang suka berisik saat hujan, dan teras lebar penuh tanaman rindang. Pagi-pagi, aku jalan kaki dari rumah, lewat halaman berbatu dan pohon mangga yang buahnya jatuh seenaknya. "Sekolah ini seperti rumah kedua," kata Bu Guru sering.


Di kelas, bangku kayu usang, tapi nyaman seperti kursi bambu di terasku. Teman-teman seperti saudara: si Andi suka coret-coret gambar burung, seperti aku gambar daun sirih. Saat pelajaran, angin sepoi dari jendela bawa aroma bunga kamboja dari halaman sekolah. Istirahat, kami main kejar-kejaran di lapangan, atau duduk di teras ngobrol mimpi. "Mau jadi apa nanti?" tanya Andi. Aku jawab, "Petani pintar, seperti Bapak."


Suatu hari hujan deras, sekolah banjir kecil di pojok. Kami sapu bareng, tertawa basah kuyup. Bu Guru bawa teh hangat dari dapur sekolah yang mirip dapur rumah—lengket nasi dan sayur. "Ini rumah kalian juga," katanya sambil peluk kami. Malamnya, aku cerita ke Ibu di rumah, "Sekolah enak, Bu, seperti di sini." Ibu tersenyum, "Makanya rajin belajar, Nak."


Sekolahku bukan cuma tempat baca buku, tapi rumah penuh tawa, pelajaran hidup, dan keluarga baru. Di bawah langit biru desa, aku janji jaga kenangan ini selamanya.



Komentar