Tetangga yang jadi cinta

 Tetangga yang Jadi Cinta


Di desa hijau dengan rumah tropis seperti foto itu, Sinta tinggal di rumah bersebelahan dengan Rama. Halaman mereka berbatu, pohon rindang berbagi pagar bambu. Sinta, gadis 22 tahun yang suka tanam bunga, sering lihat Rama dari teras—pemuda tampan yang bantu Bapaknya di sawah. "Pagi, Sin!" sapa Rama sambil angkat keranjang padi, senyumnya bikin hati Sinta berdegup.


Awalnya, cuma obrolan kecil. Saat hujan deras, Rama pinjam payung Sinta. "Makasih, ya. Besok balikin dengan es kelapa." Mereka ketawa, air hujan campur tawa. Lama-lama, Rama sering mampir, bantu siram tanaman di halaman Sinta. "Kamu cantik kalau senyum," katanya suatu sore, mata mereka bertemu di bawah pohon mangga. Sinta merona, "Kamu juga, tetangga."


Tetangga jadi pacar secara alami. Malam-malam, mereka duduk di teras hijau, cerita mimpi sambil dengar kicau jangkrik. Rama ajak Sinta jalan ke sungai desa, pegang tangan pelan. "Aku suka kamu sejak pertama lihat dari pagar," akunya. Sinta peluk lengan Rama, "Aku juga. Dekat sekali, tapi baru sadar sekarang."


Tapi gosip tetangga muncul— "Pacaran terlalu dekat, nanti ribut." Mereka cuek, justru tambah kuat. Saat Bapak Sinta sakit, Rama bantu rawat, bawa obat dari kota. "Kamu bukan cuma pacar, tapi keluarga," kata Sinta. Kini, rumah mereka seperti satu, penuh tawa dan cinta. Tetangga yang dulu asing, kini pacar abadi—seperti akar pohon rindang yang saling genggam.



Komentar