pagi di desa hijau

  Pagi di Desa Hijau


Pagi itu, matahari terbit pelan di ufuk timur, sinarnya menyusup lewat celah pohon-pohon tinggi di desa kecil. Seperti rumah tropis di foto itu, dinding hijau cerah berdiri gagah di pinggir jalan tanah, atap sengnya berkilau embun. Halaman depan penuh tanaman rindang—daun lebar belimbing, bunga kamboja harum, dan pohon mangga yang buahnya menggantung menggiurkan. Burung pipit berkicau riang, sambut hari baru.


Di teras kayu, Mbok Siti duduk goyang kursi bambu, sambil nyanyi pelan lagu daerah. Anaknya, si Joko, baru bangun, gosok mata sambil lihat pemandangan. Sawah hijau membentang luas di belakang rumah, air mengalir deras di parit kecil, petani sudah mulai tanam padi dengan keranjang di punggung. Angin sepoi bawa aroma tanah basah dan asap kayu dari dapur tetangga. Jauh di sana, gunung hijau menjulang, kabut tipis masih menyelimuti lerengnya.


Joko jalan ke halaman berbatu, injak rumput basah. "Enak ya, Bu, desa begini," katanya sambil petik daun sirih. Mbok Siti tersenyum. "Iya, Nak. Desa ini seperti ibu—sederhana, tapi penuh berkah." Tiba-tiba, anak kecil tetangga lari-larian, tertawa kejar kejaran ayam. Sungai kecil di samping desa mengalir jernih, ikan-ikan kecil melompat riang.


Saat siang menjelang, desa hidup: orang lalu lalang di pasar kecil, sepeda ontel berderet, dan anak-anak main layang-layang di lapangan. Pemandangan desa itu, dengan rumah-rumah tropis dan alam rindangnya, seperti lukisan hidup—damai, hangat, dan abadi. Joko janji dalam hati, suatu hari dia balik ke sini, jaga keindahan ini selamanya.


Komentar