Kursi Goyang di Kelas Kosong
Di sebuah sekolah tua di pinggiran kota, malam itu hujan deras mengguyur. Sepuluh siswa kelas akhir terjebak dalam permainan aneh yang dipicu oleh tantangan online: "Siapa yang berani tidur di kelas angker sekolah?" Mereka adalah Rina, gadis pemberani berambut panjang, dan Andi, cowok cuek yang selalu jadi penutup grup. Sisanya: Budi, Sari, Toni, Maya, Dedi, Lina, Riko, dan Nita—semua penasaran campur takut.
Mereka berkumpul di kelas 3A, ruangan reyot dengan dinding cat mengelupas dan jendela berderit ditiup angin. Di sudut kelas, ada kursi goyang kayu usang, peninggalan guru lama yang konon meninggal tragis di situ. "Kata legenda, kursi itu bergerak sendiri kalau ada yang mendekat," bisik Sari sambil memegang tangan Toni. Semua tertawa gugup, tapi hujan makin deras, pintu terkunci dari luar. Tak ada jalan keluar.
Rina dan Andi ditunjuk jadi "pemain utama". Mereka harus duduk di kursi goyang itu selama 10 menit, sementara delapan orang lain jadi penonton. "Ayo, Rin, jangan takut!" goda Andi, duduk dulu di kursi. Kayu itu berderit pelan saat Andi bergoyang ringan. Rina ikut duduk di pangkuannya—aturan permainan konyol yang mereka buat untuk bercanda. "Dua orang, biar lebih seru," kata Rina sambil tertawa, meski hatinya berdegup kencang.
Waktu mulai. Delapan teman duduk melingkar, handphone menyala untuk timer. Menit pertama, normal. Tapi saat menit ketiga, kursi mulai bergoyang sendiri. Lambat, seperti ada tangan tak kasat mata mendorongnya. "Ini angin kali," kata Budi, tapi suaranya gemetar. Rina merasakan hawa dingin menyusup ke tulang. Andi mencoba bangun, tapi kursi mengunci kakinya—seperti akar pohon menjalar dari lantai.
Tiba-tiba, lampu kelas redup. Bayangan panjang muncul di dinding: sosok wanita berbaju putih, rambut acak-acakan, wajah pucat tanpa mata. "Guru Ibu Siti," bisik Maya ketakutan. Legenda bilang, beliau bunuh diri di kursi itu setelah dikhianati suami. Sosok itu mendekat, tangannya kurus seperti ranting kering. Delapan teman berteriak, berlarian ke pintu, tapi terkunci rapat. Satu per satu, mereka terseret oleh angin tak terlihat—Budi jatuh tersandung, Sari lenyap di balik meja.
Rina dan Andi panik. Kursi bergoyang kencang, seperti berusaha melempar mereka. "Lepasin!" jerit Rina. Dari balik kursi, suara bisikan: "Ikut aku... selamanya." Andi meraih tangan Rina erat, tapi dingin menusuk. Sosok hantu itu kini di depan mereka, mulutnya terbuka lebar, menganga hitam. Delapan teman sudah hilang, hanya jeritan samar terdengar dari kegelapan.
Dengan sisa tenaga, Andi dorong kursi ke dinding. Kayu retak, dan hantu itu menjerit menusuk telinga. Pintu terbuka tiba-tiba, hujan berhenti. Mereka berlari keluar, tapi saat menoleh, kelas kosong. Tak ada kursi, tak ada teman. Hanya foto lama di dinding: sepuluh siswa, termasuk Rina dan Andi, tersenyum—tapi mata mereka kosong.
Keesokan paginya, sekolah sepi. Hanya kursi goyang di sudut, bergoyang pelan.

mengerikan😲😲
BalasHapusWowww mengerikan😱
BalasHapustakutttnyee
BalasHapusstelll stecu stecu biar goyangnya asikk
BalasHapus